Pakan bagi ternak harus diperhatikan agar kesehatan ternak senantiasa terjaga dan kualitas dagingnya tinggi.

Pakan bagi ternak harus diperhatikan agar kesehatan ternak senantiasa terjaga dan kualitas dagingnya tinggi.

 

Daging merupakan lauk yang tidak dapat dipisahkan dari daftar menu harian. Rasanya yang gurih dan tak tergantikan dengan lauk lainnya menjadikan permintaan akan daging tidak pernah surut. Daging terutama kambing, ayam, sapi, dan domba, juga merupakan sumber protein yang sangat baik.

Namun, daging juga memiliki sisi negatif berupa kandungan kolesterol yang tinggi. Kolesterol memang adalah zat yang dibutuhkan dalam proses metabolisme, namun dalam jumlah yang berlebihan dapat menumpuk di aliran darah. Hal ini tentu akan memperberat kinerja jantung sehingga mempertinggi resiko stroke dan berbagai penyakit jantung.

Berawal dari permasalahan itu, Fika, mahasiswi Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan IPB dan kawan-kawannya mencoba membuat formula pakan yang menjadikan kadar kolesterol domba dapat lebih rendah. Ide ini mengingatkan pada sebuah siaran televisi di Inggris, You Are What You Eat, apa yang kita makan menentukan kondisi diri kita. Kadar kolesterol dalam tubuh manusia tergantung dari makanan yang dikonsumsi, maka seharusnya hal ini berlaku juga pada hewan ternak.

Dalam proses pembuatannya, Fika dkk mencoba memanfaatkan limbah berupa kulit kacang tanah. Kacang tanah dipilih salah satunya karena Fika berasal dari Jepara, salah satu sentra produksi kacang tanah. Selain itu, kulit kacang tanah juga mengandung senyawa antioksidan dalam jumlah yang tinggi. Antioksidan berperan dalam menangkal radikal bebas. Sehingga, domba yang diberi pakan kulit kacang tanah diharapkan memiliki kadar kolesterol yang rendah.

Kulit kacang tanah tidak diberikan secara langsung kepada ternak, namun diubah terlebih dahulu dalam bentuk pellet. Pellet dibuat dari kulit kacang tanah dan konsentrat, lalu diaduk menjadi adonan. Setelah itu, pellet dibentuk menjadi gumpalan-gumpalan dan kemudian dikeringkan sebelum diberikan kepada ternak. Secara keseluruhan, proses pembuatan pakan ternak ini menghabiskan 1,25 kg kulit kacang dalam sehari.

Ketika dikonfirmasi mengenai biaya, Fika mengakui bahwa biaya produksi pakan ternak berbasis limbah kacang tanah memang cukup mahal. “Setiap kilogram pakan membutuhkan biaya Rp 4000, sedangkan ternak membutuhkan pakan sebesar 10% dari bobot tubuhnya”, ujar Fika. Mahalnya biaya pembuatan pakan ini disebabkan oleh ongkos pengiriman kulit kacang tanah dari Jepara ke Bogor. Sehingga, harga daging yang dihasilkan menjadi lebih mahal.

Namun, demi hidup yang lebih sehat dan enak, kenapa tidak?

 

Read the rest of this entry »

Desa Pulau Sapi, Kabupaten Malinau

Ibu-ibu sedang memanen padi.

Slogan bahwa orang Indonesia “belum makan kalau belum ada nasinya” memang bukan isapan jempol belaka. Meskipun asupan nutrisi telah tercukupi, baik karbohidrat, protein atau lemaknya, apabila tidak berasal dari nasi maka masih disebut “cemilan” bukan “makanan”. Hal ini tentu menyebabkan tanaman penghasil nasi, padi, menjadi tanaman yang paling penting dalam sistem pertanian Indonesia.

Meskipun dalam pemberitaan gencar disiarkan bahwa Indonesia adalah negara pengimpor beras, sebenarnya Indonesia telah memiliki track record yang baik dalam produksi beras. Indonesia adalah negara penghasil beras terbesar ketiga di dunia, setelah Cina dan India, dengan produktivitas yang tertinggi di Asia Tenggara, jauh diatas Thailand dan Vietnam yang mengekspor beras ke Indonesia. Akan tetapi, berkurangnya keluarga tani dan lahan penanaman padi mengancam track record yang cukup bagus ini.

Sekitar 5 juta keluarga tani berkurang setiap tahunnya. Hal ini terutama dipicu oleh tekanan ekonomi akibat kurang menguntungkannya usaha tani yang dilakukan. Petani yang alih profesi pada umumnya adalah yang memiliki lahan kurang dari seperempat hektar. Tingginya harga pupuk, benih, dan pestisida serta ancaman fluktuasi harga juga turut mendorong keluarnya petani-petani kecil dari usaha pertanian, bahkan juga menyebabkan generasi muda enggan jadi petani.

Salah satu input yang menyumbangkan biaya terbesar dalam usahatani adalah pupuk. Sebagai gambaran, dalam satu hektar sawah membutuhkan 400 kilogram pupuk NPK dengan harga sekitar Rp 4000. Sementara itu, dalam satu kali panen, sawah satu hektar mampu menghasilkan rata-rata 5 ton gabah dengan harga sekitar Rp 7000. Pupuk NPK saja sudah menngurangi 5% dari total pendapatan, sedangkan masih ada pupuk lain yang ditambah seperti SP-36 atau kalium. Hal ini menjadi masalah besar mengingat bahwa rata-rata petani mampu menanami sawahnya maksimal tiga kali dalam satu tahun, sedangkan untuk padi sendiri hanya dapat ditanam satu kali yakni pada saat puncak musim hujan.

Pada suatu kesempatan, sekelompok tim dari Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB melakukan serangkaian penelitian untuk mengurangi penggunaan pupuk, terutama NPK, dikalangan petani padi. Dalam penelitian ini, mereka mengujicobakan penggunaan jerami dan efeknya terhadap hasil panen padi. Jerami sendiri dipilih karena limbah hasil panen padi ini terlalu berlimpah sehingga sering terbuang percuma. Petani biasanya menggunakan jerami sebagai pakan ternak, namun karena biasanya jumlahnya berlebih maka jerami-jerami itu dibakar setelah panen. Padahal, didalam jerami itu sendiri terdapat kandungan unsur hara sebagaimana asalnya dari pupuk yang diberikan untuk padi itu sebelumnya.

Penelitian ini berusaha untuk mencari perbandingan yang paling sesuai antara jumlah jerami dan jumlah pupuk NPK yang diberikan. Sehingga dirancang petakan-petakan sawah yang diberi jerami dan pupuk NPK dari dosis terkecil hingga tertinggi. Sebagai hasilnya, petakan sawah yang diberi jerami dan pupuk NPK dengan dosis setengah memberikan hasil yang paling optimal.

Salah satu keuntungan dari penggunaan jerami, selain berperan dalam pemberian hara, juga sebagai sarana untuk memperbaiki sifat-sifat tanah. Penggunaan pupuk anorganik secara terus menerus akan menyebabkan tanah menjadi rusak dan lama kelamaan akan menyebabkan tanah tidak bisa ditanami kembali. Struktur tanah akan menjadi keras sehingga akan terasa kasar ketika dilakukan pencangkulan. Tanah, selain membutuhkan unsur hara, juga membutuhkan bahan organik untuk menunjang kehidupan tanaman yang hidup diatasnya. Bahan organik, seperti jerami, mendorong kehidupan organisme kecil yang hidup ditanah. Organisme ini, seperti bakteri, cacing, dll., menjadi sebuah tanda bahwa tanah tersebut “hidup” dan dapat menyediakan kehidupan bagi tumbuhan yang ditanam.

Prinsip dari siklus hara mewajibkan pelaku usaha tani untuk mengembalikan apa yang telah diambil dari tanah yang dipakainya. Dari tanah diambil unsur-unsur hara, maka sang petani harus mengembalikannya dengan cara memupuk NPK. Dari tanah diambil kehidupan makhluk hidup mikro, maka sang petani harus mengembalikannya dengan cara memberikan jerami dan bahan-bahan organik yang lain. Keseimbangan alam yang telah ada sebelum kehadiran manusia harusnya tetap dijaga. Apa yang diambil dari alam harus dikembalikan lagi ke alam. Tanah bukanlah harta yang akan kita wariskan, namun sebuah titipan yang akan kita berikan kepada anak cucu kita. Dengan teknik budidaya yang bijak, kita hasilkan produksi yang tinggi dan lestari.

 

 

Referensi:

Perwita, Atika Dyah. 2009. Pengaruh pembenaman jerami serta aplikasi pupuk organik dan hayati untuk mereduksi penggunaan pupuk npk pada padi sawah (Oryza sativa L.). Skripsi. Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Study of Ethylene Block Prototype to Extend Fruit Shelf Life of Raja Bulu Bananas

Ramalan Malthus mengenai populasi manusia dan produksi makanan

Pada sekitar tahun 80-an, penduduk Indonesia berjumlah 120 juta jiwa. Pada tahun 2012, jumlah penduduk Indonesia sudah mencapai 240 juta jiwa, atau mengalami pertambahan sebanyak 120 juta selama tiga dekade. Semakin bertambahnya penduduk secara otomatis meningkatkan kebutuhan pangan. Sementara itu, luas lahan pertanian untuk pangan terus mengalami penurunan. Hal ini tentu akan menjadi ancaman bagi keberlangsungan kehidupan manusia di masa yang akan datang.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi masalah ini, yakni melalui pendekatan peningkatan produktivitas tanaman pangan, pembukaan lahan pertanian baru, serta pengendalian pertumbuhan jumlah penduduk. Untuk metode pendekatan yang ke tiga, pengendalian pertumbuhan jumlah penduduk, telah gencar dilakukan semenjak era baby boom di era 60 an. Indonesia pada masa Orde Baru telah mampu menekan pertumbuhan jumlah penduduk sebesar 1.66% sehingga Indonesia memperoleh penghargaan United Nations Population Award dari PBB pada tahun 1989.

Dengan slogan “dua anak cukup”, pemerintah berupaya membentuk piramida pertumbuhan penduduk Indonesia menuju ke arah datar.    Namun, yang seringkali menjadi masalah adalah ketika sebuah keluarga memiliki anak lebih dari 2, misalkan 3, maka hal seperti ini tentu akan membawa dampak negatif terhadap upaya pengendalian pertambahan jumlah penduduk yang telah direncanakan. Mengurangi jumlah anak yang telah ada? Tidak mungkin. Lalu upaya apa yang harus dilakukan supaya piramida perumbuhan penduduk tetap cenderung datar?

Dalam selingan kuliah Pengantar Ilmu Tanah yang dibawakan oleh Dr. Basuki Sumawinata (4/12), beliau mengajukan prostulat untuk memecahkan masalah ketika sebuah keluarga memiliki anak lebih dari dua:

“Pada suatu keluarga yang telah memiliki jumlah anak lebih dari dua, maka harus diseimbangkan secara matematis melalui penambahan jumlah istri sebanyak kelebihan jumlah anak yang dimiliki”

Doktor lulusan Kyoto University ini menambahkan, walaupun jumlah anak yang berlebih ternyata diatas empat maka tentu sesuai dengan syariat seorang suami hanya boleh memiliki paling banyak empat istri.

 

Hmmm.. at least, kita tahu Indonesia tidak mungkin terlalu ekstrim dalam program keluarga berencana. Jadi, lupakan prostulat di atas  :D

 

notes: just for fun, tidak usah dianggap serius :p

Pinus

Ilustrasi daun dan biji pinus, pohon yang kita temui ketika naik gunung (wikipedia.org)

Tulisan ini saya rangkum dari selingan kuliah Pengantar Ilmu Tanah beberapa hari yang lalu. Smart analysis dari Dr. Untung Sudadi, membuat saya sadar bahwa sejak kecil dunia pendidikan di negara kita memang belum mengarahkan ke hal-hal yang ‘on the track‘ dan mencerdaskan. Dimulai dari hal yang kecil, sebuah lagu, sadar atau tidak akan menjadi ingatan bawah sadar dari anak-anak Indonesia.

Berikut ini beberapa contohnya:

 

naik kereta api, tut tut tuut

siapa hendak turut, ke Bandung Surabaya

bolehlah naik dengan percuma

(mungkin ini hal yang menginspirasi banyak orang untuk naik kereta dengan gratis. Bisa suporter, seniman jalan, pedagang, dll.)

 

naik naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali

kiri kanan kulihat banyak, banyak pohon cemara

(Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman biodiversitas tertinggi di dunia, kenapa hanya cemara yang di ekspose? Parahnya lagi, yang disangka pohon cemara di gunung itu sebenarnya adalah pinus)

 

cangkul cangkul cangkul yang dalam

menanam jagung di kebun kita

(Yang namanya menanam jagung itu gak perlu dalam-dalam. Paling cuma 5 cm)

 

pok ami ami belalang kupu kupu

siang makan nasi kalu malam minum susu

(Belalang itu makan daun, sedangkan kupu-kupu “minum” nektar)

 

nina bobo o nina bobo

kalo tidak bobo digigit nyamuk

(Nyamuk itu serangga dengan tipe alat mulut haustelata yakni menusuk menghisap. Bukan mandibulata (menggigit mengunyah). Masak nyamuk nggigit sih?)

 

cicak cicak di dinding, diam diam merayap

datang seekor nyamuk, hap.. lalu ditangkap

(siapa menangkap siapa? mana subjek? mana predikat? mana objek?)

 

Dan mungkin masih banyak lagi contoh-contoh lain yang tidak bisa diuraikan satu-satu. Ya memang kayaknya dosen saya ini benar sih, untuk membangun sumber daya manusia unggul harus dengan hiburan yang mencerdaskan. Walaupun sebenarnya lagu ini masih mending sih daripada “lagu-lagu anak” jaman sekarang.

Wallahu a’lam bishshowab

Jika kita ingin mengetahui spesifikasi komputer yang kita pakai, kita tidak perlu repot-repot membongkar CPU lalu melihatnya secara langsung. Kita cukup memanfaatkan fasilitas “System Properties” yang sudah disediakan Windows.

Klik Start, klik kanan pada My Computer, klik Properties.

Maka akan terlihat beberapa informasi sperti jenis sistem operasi, pemilik, spesifikasi prosesor, dan kapasitas RAM.

Dalam menggunakan komputer berbasis Graphical User Interface, kita tentu tidak asing dengan kursor yang bisa kita gerakkan dengan mouse. Apabila selama bertahun-tahun anda menggunakan komputer dan merasa bosan dengan tampilan kursor yang ada, anda bisa menggantinya dengan langkah sebgai berikut.

1. Klik Start -> Control Panel.

2. Klik Printers and Other Hardware -> Mouse.

3. Klik Tab Pointers.

Disitu tersedia berbagai macam paket kursor yang bisa kita pilih. Sebagai contoh, kita pilih Conductor (System Scheme). Lalu klik Ok

 

Selamat mencoba :D

 

I

Dia mahasiswa tingkat terakhir
ketika di tahun 1964 pergi ke pulau Seram
untuk tugas membina masyarakat tani di sana.
Dia menghilang
15 tahun lamanya.
Orangtuanya di Langsa
memintanya pulang.
IPB memanggilnya
untuk merampungkan studinya,
tapi semua
sia-sia.

II
Dia di Waimital jadi petani
Dia menyemai benih padi
Orang-orang menyemai benih padi
Dia membenamkan pupuk di bumi
Orang-orang membenamkan pupuk di bumi
Dia menggariskan strategi irigasi
Dia menakar klimatologi hujan
Orang-orang menampung curah hujan
Dia membesarkan anak cengkeh
Orang kampung panen raya kebun cengkeh
Dia mengukur cuaca musim kemarau
Orang-orang jadi waspada makna bencana kemarau
Dia meransum gizi sapi Bali
Orang-orang menggemukkan sapi Bali
Dia memasang fondasi tiang lokal sekolah
Orang-orang memasang dinding dan atapnya
Dia mengukir alfabet dan mengamplas angka-angka
Anak desa jadi membaca dan menyerap matematika
Dia merobohkan kolom gaji dan karir birokrasi

Kasim Arifin, di Waimital
Jadi petani.

III
Dia berkaus oblong
Dia bersandal jepit
Dia berjalan kaki
20 kilometer sehari
Sesudah meriksa padi
Dan tata palawija
Sawah dan ladang
Orang-orang desa
Dia melintas hutan
Dia menyeberang sungai
Terasa kelepak elang
Bunyi serangga siang
Sengangar tengah hari
Cericit tikus bumi
Teduh pohonan rimba
Siang makan sagu
Air sungai jernih
Minum dan wudhukmu
Bayang-bayang miring
Siul burung tekukur
Bunga alang-alang
Luka-luka kaki
Angin sore-sore
Mandi gebyar-gebyur
Simak suara azan
Jamaah menggesek bumi
Anak petani diajarnya
Logika dan matematika
Lampu petromaks bergoyang
Angin malam menggoyang
Kasim merebah badan
Di pelupuh bambu
Tidur tidak berkasur.

IV
Dia berdiri memandang ladang-ladang
Yang ditebas dari hutan rimba
Di kakinya terjepit sepasang sandal
Yang dipakainya sepanjang Waimital
Ada bukit-bukit yang dulu lama kering
Awan tergantung di atasnya
Mengacungkan tinju kemarau yang panjang
Ada bukit-bukit yang kini basah
Dengan wana sapuan yang indah
Sepanjang mata memandang
Dan perladangan yang sangat panjang
Kini telah gembur, air pun berpacu-pacu
Dengan sepotong tongkat besar, tiga tahun lamanya
Bersama puluhan transmigran
Ditusuk-tusuknya tanah kering kerontang
Dan air pun berpacu-pacu
Delapan kilometer panjangnya
Tanpa mesin-mesin, tiada anggaran belanja
Mengairi tanah 300 hektar luasnya
Kulihat potret dirimu, Sim, berdiri di situ
Muhammad Kasim Arifin, di sana,
Berdiri memandang ladang-ladang
Yang telah dikupasnya dari hutan rimba
Kini sekawanan sapi Bali mengibas-ngibaskan ekor
Di padang rumput itu
Rumput gajah yang gemuk-gemuk
Sayur-sayuran yang subur-subur
Awan tergantung di atas pulau Seram
Dikepung lautan biru yang amat cantiknya
Dari pulau itu, dia telah pulang
Dia yang dikabarkan hilang
Lima belas tahun lamanya
Di Waimital Kasim mencetak harapan
Di kota kita mencetak keluhan
(Aku jadi ingat masa kita diplonco
Dua puluh dua tahun yang lalu)
Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca
Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi
Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku
Ketika aku mengingatmu, Sim
Di Waimital engkau mencetak harapan
Di kota, kami …
Padahal awan yang tergantung di atas Waimital, adalah
Awan yang tergantung di atas kota juga
Kau kini telah pulang
Kami memelukmu.

1979

Catatan: Bagian IV puisi ini saya bacakan pada hari wisuda Institut Pertanian Bogor di kampus Darmaga, Sabtu, 22 September 1979, sesudah M. Kasim Arifin menerima gelar Insinyur Pertanian. Sebelumnya, Kasim yang sudah 15 tahun dikabarkan hilang, tapi ternyata menanam akar di Waimital enggan memenuhi panggilan Rektor Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasoetion. Pada kali ketiga kedatangan utusan Rektor, yaitu sahabatnya Saleh Widodo, baru Kasim mau datang ke Bogor. Dia terharu karena penghargaan alma maternya, tapi pada hakekatnya dia tidak memerlukan gelar akademik. Pada hari wisuda itu Kasim yang berbelas tahun berkaus oblong dan bersandal jepit saja, kegerahan karena mengenakan jas, dasi dan sepatu, hadiah patungan sahabat-sahabatnya.
Mahasiswa-mahasiswa IPB mengerumuninya selalu dan mengaguminya sebagai teladan keikhlasan pengamalan ilmu pertanian di pedesaan. Berbagai tawaran pekerjaan disampaikan padanya, tapi dia kembali lagi ke desa Waimital sesudah wisuda. Baru sesudah itu dia menerima pekerjaan sebagai dosen di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, di tanah asalnya. Tawaran meninjau pertanian di Amerika Serikat ditolaknya. Ketika ditanya kenapa kesempatan jalan-jalan ke A.S. itu tak diterimanya, sambil tertawa Kasim berkata bahwa pertama-tama jangankan bahasa Inggeris, bahasa Indonesianya saja sudah banyak lupa. Kemudian yang penting lagi, katanya, apa manfaatnya meninjau pertanian di sana, yang berbeda sekali dengan pertanian kita di sini. Kesempatan meninjau sambil liburan tamasya ke A.S. itu tak menarik hatinya.

 

Source: http://taufiqismail.com/malu-aku-jadi-orang-indonesia/kembalikan-indonesia-padaku/243-syair-untuk-seorang-petani-dari-waimital-pulau-seram-yang-pada-hari-ini-pulang-ke-almamaternya

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!